Home / Pangkalpinang / Tolak Aksi Premanisme & Kekerasan, Aliansi Pers Babel Gelar Aksi Demo

Tolak Aksi Premanisme & Kekerasan, Aliansi Pers Babel Gelar Aksi Demo

 

Rikky Ketua HPI Babel ;  Menghalangi-Halangi Profesi Wartawan Adalah Pelanggaran Hukum

 

PANGKALPINANG – Aksi kekerasan terhadap insan pers termasuk tindakan arogan dan kekerasan terhadap pers pun kini kian ‘menjadi’. Hal tersebut tergambar saat peristiwa tindak kekerasan beberapa waktu di Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka terhadap para pewarta hingga terjadi tindakan ‘premanisme’ dialami seorang wartawan asal media Mapikor, Rikky Fermana oleh sekelompok oknum warga Belinyu.

Bahkan baru-baru ini pun kembali dugaan tindak perbuatan ‘intimidasi’ kembali terjadi terhadap profesi seorang pers atau wartawan asal media online terbitanbabel.com, Randu alias Edo.

Perbuatan dugaan ‘intimidasi’ tersebut terjadi pasca wartawan terbitanbabel.com ini (Edo) merilis berita di medianya terkait aktifitas penambangan pasir timah inkonvensional (TI) rajuk ilegal di kawasan daerah aliran sungai (DAS) Dusun Kelapa Hutan, Desa Riding Panjang, Kabupaten Bangka.

Buntut dari persoalan dugaan tindak kekerasan maupun intimidasi terhadap profesi pers di Babel, untuk itu sekelompok insan pers yang tergabung dalam Forum Pers Bersatu Bangka Belitung berencana, Jumat (3/1/2020) besok akan menggelar aksi demo.

“Insya Allah besok saya dan kawan-kawan berencana akan menggelar aksi demo di kantor Polda Kep Babel,” ungkap Meires Kurniawan selaku ketua Persatuan Wartawan Republik Indonesia (PWRI) Babel didampingi ketua Ikatan Wartawan Online (IWO) Babel Evan Satriadi, ketua Himpunan Pewarta Indonesia (HPI) Babel, Rikky Fermana serta para pegiat pers lainnya saat jumpa pers, Kamis (2/1/2020) di Pangkalpinang.

Dalam keterangannya di hadapan awak media atau wartawan, Evan Satriadi selaku pimpinan media online terbitanbabel.com mengaku sangat kecewa terkait peristiwa dugaan perlakuan tidak menyenangkan terhadap wartawannya (Edo) ketika hendak melakukan konfirmasi berita, Senin (30/12/2019) siang.

“Itu patut diduga merupakan dugaan perbuatan pelecehan terhadap profesi wartawan. Mirisya malah wartawan kami dianggap mau bikin kondisi situasi keamanan jadi tidak aman. Padahal tujuan wartawan kami hanya semata-mata menjalankan profesi sebagai wartawan,” sesal Evan.

“Miris!,” cetus Evan.

Begitu pula Evan pun merasa kesal terkait laporan yang diterimanya dari wartawannya (Edo) jika baru-baru ini wartawannya sempat ditelepon oleh seorang warga Belinyu, Cdk yang tak lain diduga pelaku kekerasan terhadap wartawan (Rikky Fermana) beberapa waktu lalu di Mengkubung, Belinyu.

“Orang tersebut (Cdk — red) saat ditelepon sempat ngomong soal aktifitas tambang rajuk di Kelapa Hutan itu. Gaya bahasanya seolah-olah didugamau intimidasi wartawan kita yang nulis berita tersebut,” beber Evan.

Sementara Rikky Fermana justru kembali mengulas soal kejadian tindak didugakekerasan oleh sekelompok oknum warga yang pernah dialami olehnya dan kawan-kawan pers lainnya saat hendak melakukan liputan di daerah Dusun Mengkubung, Desa Riding Panjang, Belinyu.

“Astagfirulah sungguh miris malah ada lagi kejadian intimidasi terhadap rekan wartawan di Bangka ini dan pelaku yang sama pula. Cukup sudah kasus kekerasan yang dialami oleh saya dan kawan-kawan wartawan saat menjalankan liputan di lapangan di dusun Mengkubung,” ujar alumni jurusan Hubungan Internasional (HI) Unviversitas Pasundan, Bandung ini.

Sampai saat ini Rikky yang kini memegang sertifikat selaku Mediator dari Universitas Gajah Mada (UGM) mengaku sangat kecewa terkait kinerja pihak penyidik Polres Bangka dalam upaya mengusut tuntas perkara dugaan tindakintimidasi terhadap dirinya dan para pegiat pers lainnya yang juga sempat menyaksikan kejadian tersebut.

“Kami adalah korban intimidasi dan kekerasan oleh oknum warga , justru perkara kasus kami dilimpahkan ke Dewan Pers untuk diselesaikan kan aneh dan lucu perkara delik aduan pidana dilimpahkan ke Dewan Pers,” sesal Rikky. Sebaliknya perkara ini menurutnya bukan sengketa pers/pemberitaan.

“Nah akibat dari belom ditindaklanjuti kasus ini secara serius dan profesional makadidugapelakuitu kembali berani melakukan intervensi kepada wartawan lainnya. Perbuatan ini pun artinya menghalangi-halangi tugas pokok pers,” tegas Rikky.

Jika ada pihak-pihak ada yang mencoba menghalang-halangi profesi wartawan atau pers maka hal itu dianggapnya merupakan perbuatan yang melanggar UU Pers No.40 tahun 1999.

“Menghalang-halangi profesi wartawan adalah pelanggaran hukum.Pada Pasal 18 Undang Undang Pers jelas disebutkan ‘Setiap orang yang secara melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan yang berakibat menghambat atau menghalangi pelaksanaan ketentuan Pasal 4 ayat (2) dan ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (Lima ratus juta rupiah),” terangnya.

Hingga berita diturunkan upaya konfirmasi ke Kapolres dan Cdk tetap dilakukand kenomor ponselnya, Kamis (2/1/2020) sore sekitar pukul 16.00 WIB sayangnya ponsel yang bersangkutan belumtersambung.(Red).

About admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *